Selasa, 18 November 2014

Perlawanan Bangsa Indonesia Terhadap Penjajah Pra Pasca 1900



Perlawanan Bangsa Indonesia Pra 1900
No
Organisasi/Nama Peperangan
Tokoh
Tahun
Lokasi
Keterangan
1.
Perang Padri
Tuanku Imam Bonjol
1803-1838
Minangkabau, Sumatera Barat
1.    Perang ini diakibatkan pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
2.    Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama dijuluki sebagai kaum Padri terhadap kaum adat yaitu kalangan masyarakat yang melakukan kebiasaan seperti perjudian, minum minuman keras, penyabungan ayam, dan hukum adat matriakat mengenai warisan serta longgarnya pelaksanaan ritual formal agama Islam,
3.    Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan, sedangkan kaum adat dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah.
2.
Perang Banjar

Pangeran Hidayatulah dan Pangeran Antasari
1859-1863
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
1.    Diakibatkan oleh daerah Kalimantan Selatan dikuasai sepenuhnya oleh kolonial Belanda dan dikuasainya tambang batu bara dan perkebunan di Kalimantan Selatan.
2.    Setelah Pangeran Hidayatulah dan Pangeran Antasari wafat perjuangan tetap berlanjut, oleh karenanya rakyat masih bergerilya dengan sesekali melakukan serangan kepada Belanda sampai abad ke-20.
3.
Perang Diponegoro
Pangeran Diponegoro
1825-1830
Yogyakarta
1.    Perang ini diakibatkan oleh Belanda yang ingin menangkap Pangeran Diponegoro yang dianggap memberontak dan membakar habis kediaman beliau.
2.    Pangeran Diponegoro yang berhasil menyelamatkan diri menjadikan Goa Selarong menjadi basisnya.
3.    15 dari 19 Pangeran bergabung dengan Pangeran Diponegoro bersama rakyat pribumi dan mendapat dukungan dari kaum bangsawan dan ulama untuk menyerang Belanda.
4.    Perang Diponegoro banyak mendapat kemenangan sehingga mendapat gelar Sultan Abdulhamid Cokro Amirulmukminin Sayidin Panotogomo Kalifatullah Pulau Jowo.
5.    Perang Diponegoro dibantai oleh siasat Benteng Stesel dari Jenderal De Kock (1827), bala bantuan dari Sumatera Barat dan mendekati para pemimpin pasukan agar memihak Belanda. Siasat tersebut berhasil.
6.    21 September 2819 Belanda mengeluarkan pengumuman  bahwa siapa saja yang dapat menangkap Pangeran Diponegoro akan mendapat hadiah 20.000 ringgit. Tetapi usaha ini tidak berhasil.
7.    Pangeran Diponegoro ditipu oleh Belanda selesai perlindungan dan beliau diasingkan ke Ungaran hingga ke Manado di Benteng Amsterdam lalu dipindahkan ke Benteng Rotterdam hingga wafat pada 8 Januari 1855 di Makassar.
4.
Perang Tapanuli

Raja Sisingamangaraja VII (dari rakyat)
Van Dai Lent dan kapten Christoper (dari pemerintah)
1878-1907
Tapanuli, Sumatera Utara
1.      Sebab umum:
·           Adanya tantangan Raja Batak Tapanuli yang masih menganut agama batak kuno (animism dan dinamisme) atas penyebaran agam Kristen di Tapanuli.
·           Adanya siasat Belanda dengan menggunakan gerakan Zending untuk menguasai daerah Tapanuli.
·           Alasan yang digunakan Belanda untuk menindas pejuan Padri dan pemimpin-pemimpin Aceh banyak melarikan diri ke daerah Tapanuli.
2.      Sebab khusus:
·           Penolakan Raja Sisingamangaraja VII atas penyebaran agama Kristen di Tapanuli.
3.      Akibat perang :
·           Bidang politik : seluruh daerah Tapanuli dapat dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah colonial Hindia-Belanda.
·           Bidang ekonomi : dikuasainnya monopoli perdagangan disana terutama hasil perkebunannya seperti tembakau.
·           Bidang sosial : Tersebarnya agama Kristen di Tapanuli secara meluas yang menyebabkan berubahnya keyakinan masyarakat sebelumnya.
5.
Perang Maluku

Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy), Paulus Tiahahu, dan Kristina Martha Tiahahu.
1817
Maluku
1.    Tanggal 14 mei 1817 rakyat maluku bersumpah untuk melawan pemerintah dimulai dengan menyerang dan membongkar perahu milik belanda orombaai pos yang hendak membawa kayu bahan bangunan. Kemudian merebut benteng Duurstede oleh pasukan yang dipimpin Kapiten Pattimura.
2.    Pattimura kemudian menyerang pasukan yang dipimpin beetjes untuk merebut benteng Zeelandia, namun sebelum menyerang zeelandia, Residen Uitenbroek di Haruku melkukan hal berikut :
·         Memberi hadiah kepada Kepala Desa.
·         Membentuk komisi pendakatan Kepala-Kepala Desa di Haruku.
·         Mendatangkan pasukan bala bantuan Inggris dengan Kapal Zwaluw.
3.      Karena adanya bantuan Inggris, Kapten Pattimura terdesak masuk hutan dan benteng-bentengnya direbut kembali pemerintah.
4.      Rakyat nusa laut menyerah tanggal 10 November 1817 setelah pimpinannya Kapiten Paulus Tiahahu serta putrinya Kristina Martha Tiahahu. Tanggal 12 November 1817 Kapitan Pattimura ditangkap dan bersama tiga penglimanya dijatuhi hukuman mati di Niuew Victoria di Ambon.
6.
Perang Bone

Sultan Bone
1859
Teluk Bone, Makassar
1.    Perang diakibatkan karena tidak adanya titik damai antara orang Bone dan Belanda yang melancarkan ekspedisi serta tujuan Belanda yang ingin menguasai Teluk Bone.
2.    Akhir tahun 1857 Sultan Bone memerintahkan pengibaran Bendera Belanda terbalik di seluruh kapal dagang. Selanjutnya para penguasa membangkang terhadap pemerintah dan di Utara Distrik Pemerintahan Maros, para serdadu pribumi yang ditempatkan di gardu dekat Camba didorong untuk desersi.
3.    12 Januari 1859, panglima tertinggi berlayar kesana menaiki kapal Princes Amelia selama seminggu dan mengirim Ultimatum kepada sultanah, dimana penyataan pemerintah dijabarkan dan penyelesaikan diperlukan. Ketika dalam waktu 3 x 24 jam setelah pengiriman dokumen tersebut tak ada balasan, Belanda mengumumkan perang terhadap Bone. Pada tanggal 12 Februari pasukan mendarat, dan kemudian membentuk 3 barisan penyerbu dan menaklukkan kampong Lonrae, Bola-Telu-Telang, dan Bajoe.
4.    Namun perlawanan Belanda tidak lama berlangsung karena prajurit Belanda mulai terjangkit penyakit kolera sehingga tanggal 29 Maret 1859 ekspedisi di pertimbangkan untuk dihentikan. Ekspedisi berikutnya perlu disepakati atas kuasa Gubernur di Bone.
7.
Perang Palembang

Sultan Mahmud Badaruddin II
1819-1821
Palembang
1.      Sultan Mahmud Badaruddin disalahkan atas penyerangan terhadap Mutinghe.
2.      Terjadi pertempuran tanggal 11 – 15 Juni 1819 (istilah Palembang “Perang Menteng”) antara pasukan Sultan Mahmud Badaruddin II yang bertahan di Kraton (Benteng) dan pasukan Belanda di Kraton Lama dan di beberapa kapal perang. Pasukan Mutinghe dapat dihancurkan, dari semula 500 orang pasukan tinggal 350, Mutinghe bersama sisa pasukan ini lari ke Batavia.
1.      (Perang Palembang II) Antara 18 September dan 30 Oktober 1819 terjadi pertempuran sepanjang sungai Musi dan di Palembang dengan hasil pasukan Belanda dipukul mundur dengan korban kira-kira 500 orang, sepertiga dari seluruh kekuatan semula. Dalam pelayaran mundur armada Belanda, tanggal 3 dan 4 November 1819 telah sampai di Sungsang lalu menyebrang ke Mentok. Pada bulan Desember 1819 Pangeran Ratu dinobatkan menjadi Sultan Ahmad Najamuddin III, menggantikan ayahnya. Sedangkan Mahmud Badaruddin II menjadi Susuhunan
2.      Kekalahan pada perang-perang sebelumnya, menjadi perhatian serius bagi pihak Kerajaan Belanda dan pemerintah kolonial Belanda di Batavia. Langkah selanjutnya ditempuh dengan mempersiapkan pasukan yang lebih kuat dan siasat memecah belah kerabat Kesultanan. Alur-alur pelayaran utama dari/ke Palembang diblokade angkatan laut Belanda.
1.      (Perang Palembang III) Pangeran Syarif Muhammad yang keturunan Arab ditugaskan untuk mempengaruhi orang-orang Arab yang dekat dengan Sultan Mahmmud Badaruddin II agar mengkhianatinya. Demikian juga dengan orang-orang Cina. Beberapa Priyayi Palembang diperalat untuk membocorkan rahasia pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II.
2.      Tanggal 8 Mei 1821 Ekspedisi penyerbuan ke Palembang dipimpin Mayjen De Kock dilepas Gubernur Jendral Van der Capellen di Batavia dengan upacara kebesaran. Armada berangkat dari Batavia pada 9 Mei 1821. Kekuatan armada lebih dari 100 kapal perang besar/kecil dan personil lebih dari 4000 orang, dipersenjatai lebih dari 400 meriam besar/kecil dan senjata-senjata lain.
3.      Pertempuran-pertempuran hebat berlangsung antara tanggal 22 Mei 1821 sampai 24 Juni 1821 sepanjang sungai Musi sampai Kertapati. Husin Dhiauddin membantu Belanda menujukkan jalan dan beserta keluarganya ikut dalam armada penyerbuan ini yaitu diatas kapal Fregat Jacob Elizabeth.
4.      Pertahanan Palembang yang terakhir adalah di Benteng Kuto Besak, armada sudah berada di depannya. Tanggal 26 Juni 1821 Jendral De Kock mengirimkan surat kepada Badaruddin II yang isinya agar dia menyerah. Ternyata dia menunjukkan kebijaksanaanya yaitu menyerahkan kekuasaan Sultan kepada kemenakannya yaitu Prabu Anom putra saudaranya Husin Dhiauddin, menjadi Sultan Ahmad Najamuddin IV. Peritiwa ini terjadi tanggal 29 Juni 1821 dan oleh Husin Dhiahuddin dilaporkan kepada De Kock.
8.
Perang Lombok

Anak Agung Made (Raja Lombok)
1891-1895
Lombok
1.      Pada tahun 1891, di Daerah Lombok terjadi Perang saudara antara orang Sasak yang beragama Islam dengan keluarga Raja Lombok yang beragama Hindu Bali. Perang saudara ini memancing campur tangan Belanda. Orang Sasak minta bantuan Belanda di Batavia.
2.      Pada tahun 1892, Belanda mengirimkan utusan ke Lombok sebagai usaha penengah kedua belah pihak. Perutusan tersebut tidak diterima secara wajar oleh raja Lombok.
3.      Pada tahun 1894, sekali lagi Belanda mengirimkan perutusan yang membawa ancaman dan tuntutan permintaan maaf raja terhadap perlakuan pada perutusan Belanda sebelumnya. Ancaman dan tuntutan ini pun tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
4.      Pada tahun 1894, itu juga pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Vetter dan Van Ham menyerang kerajaan Lombok. Pertempuran sengit terjadi di Cakranegara yang mengakibatkan tewasnya Jenderal Van Ham. Lombok dapat dikuasai dan raja Lombok yang sudah lanjut umur itu ditawan dan diasingkan ke Batavia. Kerajaan Lombok jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1895.









Perlawanan Bangsa Indonesia Pasca 1900
No.
Organisasi/Nama Peperangan
Tokoh
Tahun
Lokasi
Keterangan
1.
Budi Utomo

dr. Wahidin Sudirohusodo
1908
Batavia (Jakarta)
1.    Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Yogyakarta.
2.    Budi Utomo bukan merupakan organisasi politik melainkan merupakan organisasi pelajar dengan pelajar STOVIA sebagai intinya.
3.    Sampai menjelang kongresnya yang pertama di Yogyakarta telah berdiri 7 cabang Budi Utomo, yakni di Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo.
4.    Sampai akhir tahun 1909, telah berdiri 40 cabang Budi Utomo dengan jumlah anggota mencapai 10.000 orang.
5.    Banyak anggota muda yang menyingkir dari barisan depan, dan anggota Budi Utomo kebanyakan dari golongan priayi dan pegawai negeri.
6.    Budi Utomo mempunyai andil dan jasa yang besar dalam sejarah pergerakan nasional, yakni membuka jalan dan memelopori gerakan kebangsaan Indonesia.
2,
Sarekat Islam

H. Samanhudi (SDI), H.O.S. Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim (SI).
1911
Solo
1.    Pada mulanya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) sebagai koperasi pedagang batik Jawa didirikan oleh H. Samanhudi.
2.     Latar belakang:
·         Perlawanan terhadap para pedagang oleh orang Cina.
·         Isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya.
·         Membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.
3.    Tujuan :
·         Mengembangkan jiwa pedagang.
·         Memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran.
·         Memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya drajat bumi putera.
·         Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam.
·         Tidak bergerak dalam bidang politik
·         Menggalang persatuan umat Islam hingga saling tolong-menolong.
4.    Antara 1917-1920, SI menerbitkan surat kabar yang bernama Utusan Hindia.
5.     
3.
Peristiwa Cot Plieng
Tengku Abdul Jalil (guru mengaji di Cot Plieng)
1942
Aceh
1.      Usaha Jepang untuk membujuk sang ulama tidak berhasil, sehingga Jepang melakukan serangan mendadak di pagi buta sewaktu rakyat sedang melaksanakan salat subuh.
2.      Dengan persenjataan sederhana/ seadanya rakyat berusaha menahan serangan dan berhasil memukul mundur pasukan Jepang untuk kembali Lhokseumawe (10 November).
3.      Begitu juga dengan serangan kedua, berhasil digagalkan oleh rakyat. Baru pada serangan terakhir (ketiga) Jepang berhasil membakar masjid sementara pemimpin pemberontakan (Teuku Abdul Jalil) berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh, namun akhirnya tertembak saat sedang salat.
4.
Indische Partij (IP)

Tiga Serangkai:
Douwes Dekker (Setyabudi Danudirjo, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).
1912
Bandung
1.      Terbentuk pada 25 Desember 1912. Cita-cita: menyatukan semua golongan yang ada di Indonesia, baik golongan Indonesia asli maupun golongan Indo, Cina, Arab, dan sebagainya. Cita-cita Indische Partij banyak disebar-luaskan melalui surat kabar De Expres.
2.      Indische Partij merupakan partai politik pertama di Indonesia dengan haluan kooperasi. Dalam waktu yang singkat telah mempunyai 30 cabang dengan anggota lebih kurang 7.000 orang yang kebanyakan orang Indo.
3.      Satu hal yang sangat menusuk perasaan pemerintah Hindia Belanda adalah tulisan Suwardi Suryaningrat yang berjudul Als ik een Nederlander was (seandainya saya seorang Belanda) yang isinya berupa sindiran terhadap ketidakadilan di daerah jajahan. Oleh karena kegiatannya sangat mencemaskan pemerintah Belanda maka pada bulan Agustus 1913 ketiga pemimpin Indische Partij dijatuhi hukuman pengasingan dan mereka memilih Negeri Belanda sebagai tempat pengasingannya.
4.      Selanjutnya, Indische Partij berganti nama menjadi Partai Insulinde dan pada tahun 1919 berubah lagi menjadi National Indische Partij (NIP).
5.
Muhammadiyah

Kiai Haji Ahmad Dahlan
1912
Yogyakarta
1.      Didirikan pada tanggal 18 November 1912. Asas perjuangannya ialah Islam dan kebangsaan Indonesia, sifatnya nonpolitik. Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial menuju kepada tercapainya kebahagiaan lahir batin.
2.      Muhammadiyah berusaha untuk mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadis. Itulah sebabnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran agama Islam secara modern dan memperteguh keyakinan tentang agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya. Kegiatan Muhammadiyah juga telah memperhatikan pendidikan wanita yang dinamakan Aisyiah, sedangkan untuk kepanduan disebut Hizbut Wathon ( HW ).
3.      Sejak berdiri di Yogyakarta (1912) Muhammadiyah terus mengalami perkembangan yang pesat. Sampai tahun 1913, Muhammadiyah telah memiliki 267 cabang yang tersebar di Pulau Jawa. Pada tahun 1935, Muhammadiyah sudah mempunyai 710 cabang yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.
6.
Gerakan Pemuda (Trikoro Dharmo)
R. Satiman Wiryosanjoyo, Kadarman, dan Sunardi.
1915
Batavia (Jakarta)
1.      Trikoro Dharmo, artinya tiga tujuan mulia, yakni sakti, budi, dan bakti.
2.      Trikoro Dharmo yakni mencapai Jawa raya dengan jalan memperkokoh rasa persatuan antara pemuda-pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok. Oleh karena sifatnya yang masih Jawa sentris maka para pemuda di luar Jawa (tidak berbudaya Jawa) kurang senang.
3.      Pada kongresnya di Solo pada tanggal 12 Juni 1918 namanya diubah menjadi Jong Java (Pemuda Jawa). Sesuai dengan anggaran dasarnya, Jong Java ini bertujuan untuk mendidik para anggotanya supaya kelak dapat menyumbangkan tenaganya untuk membangun Jawa raya dengan jalan mempererat persatuan, menambah pengetahuan, dan rasa cinta pada budaya sendiri.
7.
Taman Siswa

Ki Hajar Dewantara
1922
Yogyakarta
1.      Sekolah Taman Siswa (3 Juli 1922) dijadikan sarana untuk menyampaikan ideologi nasionalisme kebudayaan, perkembangan politik, dan juga digunakan untuk mendidik calon-calon pemimpin bangsa yang akan datang.
2.      Penididikan Taman Siswa dilakukan dengan sistem "among" dengan pola belajar "asah, asih dan asuh". Dalam hal ini diwajibkan bagi para guru untuk bersikap dan berlaku "sebagai pemimpin" yakni di depan memberi contoh, di tengah dapat memberikan motivasi, dan di belakang dapat memberikan pengawasan yang berpengaruh. Prinsip pengajaran inilah yang kemudian dikenal dengan pola kepemimpinan "Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani ". Pola kepemimpinan ini sampai sekarang masih menjadi ciri kepemimpinan nasional.
3.      Berkat jasa dan perjuangannya yakni mencerdaskan kehidupan menuju Indonesia merdeka maka tanggal 2 Mei (hari kelahiran Ki Hajar Dewantara) ditetapkant sebagai hari Pendidikan Nasional. Di samping itu, "Tut Wuri Handayani" sebagai semboyan terpatri dalam lambang Departemen Pendidikan Nasional.
8.
Gerakan Wanita

R.A. Kartini, Raden Dewi Sartika, Putri Mardika, Kartinifounds, Kerajinan Amal Setia, Aisyiah, dan sebagainya.
Mulai 1912
Indonesia
1.      Cita-cita Kartini ditulis dalam surat-suratnya yang kemudian berhasil dihimpun dalam sebuah buku yang diterjemahkan dalam judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
2.      Putri Mardika di Batavia (1912) dengan tujuan membantu keuangan bagi wanita-wanita yang akan melanjutkan sekolahnya. Tokohnya, antara lain R.A. Saburudin, R.K. Rukmini, dan R.A. Sutinah Joyopranata.
3.      Kartinifounds, yang didirikan oleh suami istri T.Ch. van Deventer (1912) dengan membentuk sekolah-sekolah Kartinibagi kaum wanita, seperti di  Semarang, Batavia, Malang, dan Madiun.
4.      Kerajinan Amal Setia, di Koto Gadang Sumatra Barat oleh Rohana Kudus (1914). Tujuannya meningkatkan derajat kaum wanita dengan cara memberi pelajaran membaca, menulis, berhitung, mengatur rumah tangga, membuat kerajinan, dan cara pemasarannya.
5.      Aisyiah, merupakan organisasi wanita Muhammadiyah yang didirikan oleh Ny. Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (1917). Tujuannya untuk memajukan pendidikan dan keagamaan kaum wanita.
6.      Organisasi Kewanitaan lain yang berdiri cukup banyak, misalnya Pawiyatan Wanito di Magelang (1915), Wanito Susilo di Pemalang (1918), Wanito Rukun Santoso di Malang, Budi Wanito di Solo, Putri Budi Sejati di Surabaya (1919), Wanito Mulyo di Yogyakarta (1920), Wanito Utomo dan Wanito Katolik di Yogyakarta (1921), dan Wanito Taman Siswa (1922).
7.      Puncak gerakan wanita, yaitu dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres menghasilkan bentuk perhimpunan wanita berskala nasional dan berwawasan kebangsaan, yakni Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Kongres Wanita II di Batavia pada tanggal 28–31 Desember 1929 PPI diubah menjadi Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII).
8.      Tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari Ibu