Perlawanan Bangsa Indonesia Pra 1900
No
|
Organisasi/Nama Peperangan
|
Tokoh
|
Tahun
|
Lokasi
|
Keterangan
|
1.
|
Perang
Padri
|
Tuanku
Imam Bonjol
|
1803-1838
|
Minangkabau,
Sumatera Barat
|
1.
Perang ini diakibatkan pertentangan dalam masalah
agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
2.
Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan
sekelompok ulama dijuluki sebagai kaum Padri terhadap kaum adat yaitu
kalangan masyarakat yang melakukan kebiasaan seperti perjudian, minum minuman
keras, penyabungan ayam, dan hukum adat matriakat mengenai warisan serta
longgarnya pelaksanaan ritual formal agama Islam,
3.
Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan,
sedangkan kaum adat dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah.
|
2.
|
Perang
Banjar
|
Pangeran
Hidayatulah dan Pangeran Antasari
|
1859-1863
|
Kalimantan
Selatan dan Kalimantan Tengah
|
1.
Diakibatkan oleh daerah Kalimantan Selatan
dikuasai sepenuhnya oleh kolonial Belanda dan dikuasainya tambang batu bara
dan perkebunan di Kalimantan Selatan.
2.
Setelah Pangeran Hidayatulah dan Pangeran Antasari
wafat perjuangan tetap berlanjut, oleh karenanya rakyat masih bergerilya
dengan sesekali melakukan serangan kepada Belanda sampai abad ke-20.
|
3.
|
Perang
Diponegoro
|
Pangeran
Diponegoro
|
1825-1830
|
Yogyakarta
|
1.
Perang ini diakibatkan oleh Belanda yang ingin
menangkap Pangeran Diponegoro yang dianggap memberontak dan membakar habis
kediaman beliau.
2.
Pangeran Diponegoro yang berhasil menyelamatkan
diri menjadikan Goa Selarong menjadi basisnya.
3.
15 dari 19 Pangeran bergabung dengan Pangeran Diponegoro
bersama rakyat pribumi dan mendapat dukungan dari kaum bangsawan dan ulama
untuk menyerang Belanda.
4.
Perang Diponegoro banyak mendapat kemenangan
sehingga mendapat gelar Sultan Abdulhamid Cokro Amirulmukminin Sayidin
Panotogomo Kalifatullah Pulau Jowo.
5.
Perang Diponegoro dibantai oleh siasat Benteng
Stesel dari Jenderal De Kock (1827), bala bantuan dari Sumatera Barat dan
mendekati para pemimpin pasukan agar memihak Belanda. Siasat tersebut
berhasil.
6.
21 September 2819 Belanda mengeluarkan pengumuman bahwa siapa saja yang dapat menangkap
Pangeran Diponegoro akan mendapat hadiah 20.000 ringgit. Tetapi usaha ini
tidak berhasil.
7.
Pangeran Diponegoro ditipu oleh Belanda selesai
perlindungan dan beliau diasingkan ke Ungaran hingga ke Manado di Benteng Amsterdam
lalu dipindahkan ke Benteng Rotterdam hingga wafat pada 8 Januari 1855 di
Makassar.
|
4.
|
Perang
Tapanuli
|
Raja
Sisingamangaraja VII (dari rakyat)
Van
Dai Lent dan kapten Christoper (dari pemerintah)
|
1878-1907
|
Tapanuli,
Sumatera Utara
|
1.
Sebab umum:
·
Adanya tantangan Raja Batak Tapanuli yang masih
menganut agama batak kuno (animism dan dinamisme) atas penyebaran agam
Kristen di Tapanuli.
·
Adanya siasat Belanda dengan menggunakan gerakan
Zending untuk menguasai daerah Tapanuli.
·
Alasan yang digunakan Belanda untuk menindas
pejuan Padri dan pemimpin-pemimpin Aceh banyak melarikan diri ke daerah
Tapanuli.
2.
Sebab khusus:
·
Penolakan Raja Sisingamangaraja VII atas
penyebaran agama Kristen di Tapanuli.
3.
Akibat perang :
·
Bidang politik : seluruh daerah Tapanuli dapat
dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah colonial Hindia-Belanda.
·
Bidang ekonomi : dikuasainnya monopoli perdagangan
disana terutama hasil perkebunannya seperti tembakau.
·
Bidang sosial : Tersebarnya agama Kristen di
Tapanuli secara meluas yang menyebabkan berubahnya keyakinan masyarakat
sebelumnya.
|
5.
|
Perang
Maluku
|
Kapitan
Pattimura (Thomas Matulessy), Paulus Tiahahu, dan Kristina Martha Tiahahu.
|
1817
|
Maluku
|
1.
Tanggal 14 mei 1817 rakyat maluku bersumpah untuk
melawan pemerintah dimulai dengan menyerang dan membongkar perahu milik
belanda orombaai pos yang hendak membawa kayu bahan bangunan. Kemudian
merebut benteng Duurstede oleh pasukan yang dipimpin Kapiten Pattimura.
2.
Pattimura kemudian menyerang pasukan yang dipimpin
beetjes untuk merebut benteng Zeelandia, namun sebelum menyerang zeelandia,
Residen Uitenbroek di Haruku melkukan hal berikut :
·
Memberi hadiah kepada Kepala Desa.
·
Membentuk komisi pendakatan Kepala-Kepala Desa di
Haruku.
·
Mendatangkan pasukan bala bantuan Inggris dengan
Kapal Zwaluw.
3.
Karena adanya bantuan Inggris, Kapten Pattimura
terdesak masuk hutan dan benteng-bentengnya direbut kembali pemerintah.
4.
Rakyat nusa laut menyerah tanggal 10 November 1817
setelah pimpinannya Kapiten Paulus Tiahahu serta putrinya Kristina Martha
Tiahahu. Tanggal 12 November 1817 Kapitan Pattimura ditangkap dan bersama
tiga penglimanya dijatuhi hukuman mati di Niuew Victoria di Ambon.
|
6.
|
Perang
Bone
|
Sultan
Bone
|
1859
|
Teluk
Bone, Makassar
|
1.
Perang diakibatkan karena tidak adanya titik damai
antara orang Bone dan Belanda yang melancarkan ekspedisi serta tujuan Belanda
yang ingin menguasai Teluk Bone.
2.
Akhir tahun 1857 Sultan Bone memerintahkan
pengibaran Bendera Belanda terbalik di seluruh kapal dagang. Selanjutnya para
penguasa membangkang terhadap pemerintah dan di Utara Distrik Pemerintahan
Maros, para serdadu pribumi yang ditempatkan di gardu dekat Camba didorong
untuk desersi.
3.
12 Januari 1859, panglima tertinggi berlayar
kesana menaiki kapal Princes Amelia selama seminggu dan mengirim Ultimatum
kepada sultanah, dimana penyataan pemerintah dijabarkan dan penyelesaikan
diperlukan. Ketika dalam waktu 3 x 24 jam setelah pengiriman dokumen tersebut
tak ada balasan, Belanda mengumumkan perang terhadap Bone. Pada tanggal 12
Februari pasukan mendarat, dan kemudian membentuk 3 barisan penyerbu dan
menaklukkan kampong Lonrae, Bola-Telu-Telang, dan Bajoe.
4.
Namun perlawanan Belanda tidak lama berlangsung
karena prajurit Belanda mulai terjangkit penyakit kolera sehingga tanggal 29
Maret 1859 ekspedisi di pertimbangkan untuk dihentikan. Ekspedisi berikutnya
perlu disepakati atas kuasa Gubernur di Bone.
|
7.
|
Perang
Palembang
|
Sultan
Mahmud Badaruddin II
|
1819-1821
|
Palembang
|
1.
Sultan Mahmud Badaruddin disalahkan atas
penyerangan terhadap Mutinghe.
2.
Terjadi pertempuran tanggal 11 – 15 Juni 1819
(istilah Palembang “Perang Menteng”) antara pasukan Sultan Mahmud Badaruddin
II yang bertahan di Kraton (Benteng) dan pasukan Belanda di Kraton Lama dan
di beberapa kapal perang. Pasukan Mutinghe dapat dihancurkan, dari semula 500
orang pasukan tinggal 350, Mutinghe bersama sisa pasukan ini lari ke Batavia.
1.
(Perang Palembang II) Antara 18 September dan 30
Oktober 1819 terjadi pertempuran sepanjang sungai Musi dan di Palembang
dengan hasil pasukan Belanda dipukul mundur dengan korban kira-kira 500
orang, sepertiga dari seluruh kekuatan semula. Dalam pelayaran mundur armada
Belanda, tanggal 3 dan 4 November 1819 telah sampai di Sungsang lalu
menyebrang ke Mentok. Pada bulan Desember 1819 Pangeran Ratu dinobatkan
menjadi Sultan Ahmad Najamuddin III, menggantikan ayahnya. Sedangkan Mahmud
Badaruddin II menjadi Susuhunan
2.
Kekalahan pada perang-perang sebelumnya, menjadi
perhatian serius bagi pihak Kerajaan Belanda dan pemerintah kolonial Belanda
di Batavia. Langkah selanjutnya ditempuh dengan mempersiapkan pasukan yang
lebih kuat dan siasat memecah belah kerabat Kesultanan. Alur-alur pelayaran
utama dari/ke Palembang diblokade angkatan laut Belanda.
1.
(Perang Palembang III) Pangeran Syarif Muhammad
yang keturunan Arab ditugaskan untuk mempengaruhi orang-orang Arab yang dekat
dengan Sultan Mahmmud Badaruddin II agar mengkhianatinya. Demikian juga
dengan orang-orang Cina. Beberapa Priyayi Palembang diperalat untuk
membocorkan rahasia pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II.
2.
Tanggal 8 Mei 1821 Ekspedisi penyerbuan ke
Palembang dipimpin Mayjen De Kock dilepas Gubernur Jendral Van der Capellen
di Batavia dengan upacara kebesaran. Armada berangkat dari Batavia pada 9 Mei
1821. Kekuatan armada lebih dari 100 kapal perang besar/kecil dan personil
lebih dari 4000 orang, dipersenjatai lebih dari 400 meriam besar/kecil dan
senjata-senjata lain.
3.
Pertempuran-pertempuran hebat berlangsung antara
tanggal 22 Mei 1821 sampai 24 Juni 1821 sepanjang sungai Musi sampai
Kertapati. Husin Dhiauddin membantu Belanda menujukkan jalan dan beserta
keluarganya ikut dalam armada penyerbuan ini yaitu diatas kapal Fregat Jacob
Elizabeth.
4.
Pertahanan Palembang yang terakhir adalah di
Benteng Kuto Besak, armada sudah berada di depannya. Tanggal 26 Juni 1821
Jendral De Kock mengirimkan surat kepada Badaruddin II yang isinya agar dia
menyerah. Ternyata dia menunjukkan kebijaksanaanya yaitu menyerahkan
kekuasaan Sultan kepada kemenakannya yaitu Prabu Anom putra saudaranya Husin
Dhiauddin, menjadi Sultan Ahmad Najamuddin IV. Peritiwa ini terjadi tanggal
29 Juni 1821 dan oleh Husin Dhiahuddin dilaporkan kepada De Kock.
|
8.
|
Perang
Lombok
|
Anak
Agung Made (Raja Lombok)
|
1891-1895
|
Lombok
|
1.
Pada tahun 1891, di Daerah Lombok terjadi Perang
saudara antara orang Sasak yang beragama Islam dengan keluarga Raja Lombok
yang beragama Hindu Bali. Perang saudara ini memancing campur tangan Belanda.
Orang Sasak minta bantuan Belanda di Batavia.
2.
Pada tahun 1892, Belanda mengirimkan utusan ke
Lombok sebagai usaha penengah kedua belah pihak. Perutusan tersebut tidak diterima
secara wajar oleh raja Lombok.
3.
Pada tahun 1894, sekali lagi Belanda mengirimkan
perutusan yang membawa ancaman dan tuntutan permintaan maaf raja terhadap
perlakuan pada perutusan Belanda sebelumnya. Ancaman dan tuntutan ini pun
tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
4.
Pada tahun 1894, itu juga pasukan Belanda di bawah
pimpinan Jenderal Vetter dan Van Ham menyerang kerajaan Lombok. Pertempuran
sengit terjadi di Cakranegara yang mengakibatkan tewasnya Jenderal Van Ham.
Lombok dapat dikuasai dan raja Lombok yang sudah lanjut umur itu ditawan dan
diasingkan ke Batavia. Kerajaan Lombok jatuh ke tangan Belanda pada tahun
1895.
|
Perlawanan Bangsa Indonesia Pasca 1900
No.
|
Organisasi/Nama Peperangan
|
Tokoh
|
Tahun
|
Lokasi
|
Keterangan
|
1.
|
Budi
Utomo
|
dr.
Wahidin Sudirohusodo
|
1908
|
Batavia
(Jakarta)
|
1.
Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo
menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Yogyakarta.
2.
Budi Utomo bukan merupakan organisasi politik
melainkan merupakan organisasi pelajar dengan pelajar STOVIA sebagai intinya.
3.
Sampai menjelang kongresnya yang pertama di
Yogyakarta telah berdiri 7 cabang Budi Utomo, yakni di Batavia, Bogor,
Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo.
4.
Sampai akhir tahun 1909, telah berdiri 40 cabang
Budi Utomo dengan jumlah anggota mencapai 10.000 orang.
5.
Banyak anggota muda yang menyingkir dari barisan
depan, dan anggota Budi Utomo kebanyakan dari golongan priayi dan pegawai
negeri.
6.
Budi Utomo mempunyai andil dan jasa yang besar
dalam sejarah pergerakan nasional, yakni membuka jalan dan memelopori gerakan
kebangsaan Indonesia.
|
2,
|
Sarekat
Islam
|
H.
Samanhudi (SDI), H.O.S. Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim (SI).
|
1911
|
Solo
|
1.
Pada mulanya bernama Sarekat Dagang Islam (SDI)
sebagai koperasi pedagang batik Jawa didirikan oleh H. Samanhudi.
2.
Latar
belakang:
·
Perlawanan terhadap para pedagang oleh orang Cina.
·
Isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya
untuk menunjukkan kekuatannya.
·
Membuat front melawan semua penghinaan terhadap
rakyat bumi putera.
3.
Tujuan :
·
Mengembangkan jiwa pedagang.
·
Memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami
kesukaran.
·
Memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat
naiknya drajat bumi putera.
·
Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang
agama Islam.
·
Tidak bergerak dalam bidang politik
·
Menggalang persatuan umat Islam hingga saling
tolong-menolong.
4.
Antara 1917-1920, SI menerbitkan surat kabar yang
bernama Utusan Hindia.
5.
|
3.
|
Peristiwa
Cot Plieng
|
Tengku
Abdul Jalil (guru mengaji di Cot Plieng)
|
1942
|
Aceh
|
1.
Usaha Jepang untuk membujuk sang ulama tidak
berhasil, sehingga Jepang melakukan serangan mendadak di pagi buta sewaktu
rakyat sedang melaksanakan salat subuh.
2.
Dengan persenjataan sederhana/ seadanya rakyat
berusaha menahan serangan dan berhasil memukul mundur pasukan Jepang untuk
kembali Lhokseumawe (10 November).
3.
Begitu juga dengan serangan kedua, berhasil
digagalkan oleh rakyat. Baru pada serangan terakhir (ketiga) Jepang berhasil
membakar masjid sementara pemimpin pemberontakan (Teuku Abdul Jalil) berhasil
meloloskan diri dari kepungan musuh, namun akhirnya tertembak saat sedang
salat.
|
4.
|
Indische Partij (IP)
|
Tiga
Serangkai:
Douwes Dekker (Setyabudi
Danudirjo, dr. Cipto Mangunkusumo,
dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar
Dewantara).
|
1912
|
Bandung
|
1.
Terbentuk pada 25 Desember 1912. Cita-cita:
menyatukan semua golongan yang ada di Indonesia, baik golongan Indonesia asli
maupun golongan Indo, Cina, Arab, dan sebagainya. Cita-cita Indische Partij
banyak disebar-luaskan melalui surat kabar De Expres.
2.
Indische Partij merupakan partai politik
pertama di Indonesia dengan haluan kooperasi. Dalam waktu yang singkat
telah mempunyai 30 cabang dengan anggota lebih kurang 7.000 orang yang
kebanyakan orang Indo.
3.
Satu hal yang sangat menusuk perasaan pemerintah
Hindia Belanda adalah tulisan Suwardi Suryaningrat yang berjudul Als ik een
Nederlander was (seandainya saya seorang Belanda) yang isinya berupa sindiran
terhadap ketidakadilan di daerah jajahan. Oleh karena kegiatannya sangat
mencemaskan pemerintah Belanda maka pada bulan Agustus 1913 ketiga pemimpin
Indische Partij dijatuhi hukuman pengasingan dan mereka memilih Negeri
Belanda sebagai tempat pengasingannya.
4.
Selanjutnya, Indische Partij berganti nama menjadi
Partai Insulinde dan pada tahun 1919 berubah lagi menjadi National Indische
Partij (NIP).
|
5.
|
Muhammadiyah
|
Kiai
Haji Ahmad Dahlan
|
1912
|
Yogyakarta
|
1.
Didirikan pada tanggal 18 November 1912. Asas
perjuangannya ialah Islam dan kebangsaan Indonesia, sifatnya nonpolitik.
Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial menuju
kepada tercapainya kebahagiaan lahir batin.
2.
Muhammadiyah berusaha untuk mengembalikan ajaran
Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadis. Itulah sebabnya penyelenggaraan
pendidikan dan pengajaran agama Islam secara modern dan memperteguh keyakinan
tentang agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya.
Kegiatan Muhammadiyah juga telah memperhatikan pendidikan wanita yang
dinamakan Aisyiah, sedangkan untuk kepanduan disebut Hizbut Wathon ( HW ).
3.
Sejak berdiri di Yogyakarta (1912) Muhammadiyah
terus mengalami perkembangan yang pesat. Sampai tahun 1913, Muhammadiyah
telah memiliki 267 cabang yang tersebar di Pulau Jawa. Pada tahun 1935,
Muhammadiyah sudah mempunyai 710 cabang yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatra,
Kalimantan dan Sulawesi.
|
6.
|
Gerakan
Pemuda (Trikoro Dharmo)
|
R.
Satiman Wiryosanjoyo, Kadarman, dan Sunardi.
|
1915
|
Batavia
(Jakarta)
|
1.
Trikoro Dharmo, artinya tiga tujuan mulia, yakni
sakti, budi, dan bakti.
2.
Trikoro Dharmo yakni mencapai Jawa raya dengan
jalan memperkokoh rasa persatuan antara pemuda-pemuda Jawa, Sunda, Madura,
Bali, dan Lombok. Oleh karena sifatnya yang masih Jawa sentris maka para
pemuda di luar Jawa (tidak berbudaya Jawa) kurang senang.
3.
Pada kongresnya di Solo pada tanggal 12 Juni 1918
namanya diubah menjadi Jong Java (Pemuda Jawa). Sesuai dengan anggaran
dasarnya, Jong Java ini bertujuan untuk mendidik para anggotanya supaya kelak
dapat menyumbangkan tenaganya untuk membangun Jawa raya dengan jalan
mempererat persatuan, menambah pengetahuan, dan rasa cinta pada budaya
sendiri.
|
7.
|
Taman
Siswa
|
Ki
Hajar Dewantara
|
1922
|
Yogyakarta
|
1.
Sekolah Taman Siswa (3 Juli 1922) dijadikan sarana
untuk menyampaikan ideologi nasionalisme kebudayaan, perkembangan politik,
dan juga digunakan untuk mendidik calon-calon pemimpin bangsa yang akan
datang.
2.
Penididikan Taman Siswa dilakukan dengan sistem
"among" dengan pola belajar "asah, asih dan asuh". Dalam
hal ini diwajibkan bagi para guru untuk bersikap dan berlaku "sebagai
pemimpin" yakni di depan memberi contoh, di tengah dapat memberikan
motivasi, dan di belakang dapat memberikan pengawasan yang berpengaruh.
Prinsip pengajaran inilah yang kemudian dikenal dengan pola kepemimpinan
"Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani
". Pola kepemimpinan ini sampai sekarang masih menjadi ciri kepemimpinan
nasional.
3.
Berkat jasa dan perjuangannya yakni mencerdaskan
kehidupan menuju Indonesia merdeka maka tanggal 2 Mei (hari kelahiran Ki
Hajar Dewantara) ditetapkant sebagai hari Pendidikan Nasional. Di samping
itu, "Tut Wuri Handayani" sebagai semboyan terpatri dalam lambang
Departemen Pendidikan Nasional.
|
8.
|
Gerakan
Wanita
|
R.A.
Kartini, Raden Dewi Sartika, Putri Mardika, Kartinifounds, Kerajinan Amal
Setia, Aisyiah, dan sebagainya.
|
Mulai
1912
|
Indonesia
|
1.
Cita-cita Kartini ditulis dalam surat-suratnya
yang kemudian berhasil dihimpun dalam sebuah buku yang diterjemahkan dalam
judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
2.
Putri Mardika di Batavia (1912) dengan tujuan
membantu keuangan bagi wanita-wanita yang akan melanjutkan sekolahnya.
Tokohnya, antara lain R.A. Saburudin, R.K. Rukmini, dan R.A. Sutinah
Joyopranata.
3.
Kartinifounds,
yang didirikan oleh suami istri T.Ch. van Deventer (1912) dengan membentuk
sekolah-sekolah Kartinibagi kaum wanita, seperti di Semarang, Batavia,
Malang, dan Madiun.
4.
Kerajinan Amal Setia, di Koto Gadang Sumatra Barat
oleh Rohana Kudus (1914). Tujuannya meningkatkan derajat kaum wanita dengan
cara memberi pelajaran membaca, menulis, berhitung, mengatur rumah tangga,
membuat kerajinan, dan cara pemasarannya.
5.
Aisyiah, merupakan organisasi wanita Muhammadiyah
yang didirikan oleh Ny. Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan (1917). Tujuannya untuk
memajukan pendidikan dan keagamaan kaum wanita.
6.
Organisasi Kewanitaan lain yang berdiri cukup
banyak, misalnya Pawiyatan Wanito di Magelang (1915), Wanito Susilo di
Pemalang (1918), Wanito Rukun Santoso di Malang, Budi Wanito di Solo, Putri
Budi Sejati di Surabaya (1919), Wanito Mulyo di Yogyakarta (1920), Wanito
Utomo dan Wanito Katolik di Yogyakarta (1921), dan Wanito Taman Siswa (1922).
7.
Puncak gerakan wanita, yaitu dengan
diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22–25 Desember
1928 di Yogyakarta. Kongres menghasilkan bentuk perhimpunan wanita berskala
nasional dan berwawasan kebangsaan, yakni Perikatan Perempuan Indonesia
(PPI). Kongres Wanita II di Batavia pada tanggal 28–31 Desember 1929 PPI
diubah menjadi Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII).
8.
Tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai hari Ibu
|